Departemen PSDM

Departemen PSDM (Pengembangan Sumber Daya Mahsisiwa) pada periode 2008/2009 dibagi atas tiga divisi yaitu divisi pelatihan, divisi kaderisasi, dan divisi kastrat (kajian strategi). PSDM merupakan departemen yang bisa dibilang inti dan mempunyai peranan penting dalam suatu himpunan. Membentuk kader-kader himpunan teknik kelautan yang sesuai dengan Peran dan Fungsi Mahasiswa itulah tujuan dari PSDM sendiri. Ranah kerja dari setiap divis berbeda, divisi pelatihan yaitu lebih kepada pelatihan yang mendukung tujuan dari PSDM sendiri, sperti LKMM, Upgrading dll. Divisi Kaderisasi lebih mengurusi mahasiswa-mahasiswa baru (MABA) teknik kelautan pada khusunya dan mahasiswa-mahasiswa teknik kelautan lama pada umumnya, serta controlling. Divisi kastrat fokus kedalam kajian-kajian terhadap isu yang terjadi baik didlam jurusan, kampus, regional, dan nasionla, serta internasional tetang masalah-masalah yang terjadi, serta melakukan pewacanaan terhadap isu-isu yang berkembang melalui tulisan, hal ini bertujuan untuk mengupgrade, meningkatkan pengkritisan mahasiswa. Semoga mahasiswa teknik kelautan bisa memberikan kontribusi, solidaritas yang tinggi, serta mempunyai nilai-nilai perjuangan untuk melanjutkan para pejuang kita yang tertunda. Institut Teknolgi Sepuluh Nopember adalah kampus perjuangan, jangan membiarkan diri kita terbelunggu dalam kabut akan matinya pergerakan mahasiswa.
Vivat Kelautan !!! VIVAT… VIVAT
by Dept. PSDM 2008 / 2009

Iklan

3 thoughts on “Departemen PSDM

  1. hidup adalah pilihan…
    Tapi bukan berarti, sebuah harga mati unutk sebuah pilihan hidup…

    hidupkan kembali jiwa kesatriamu…

    nyalakan kembali api perjuanganmu…

    terangkan kembali tapak visionermu…

    Hargai peranmu..wahai mahasiswa…

    Cerahkan pemikiranmu…

    Join di forum diskusi punya PSDM dunk.. coming soon…

  2. to:kajian strategis
    Milik Siapa Budaya Indonesia????

    Satu lagi berita mengejutkan datang dari Bali seorang seniman asli Pulau Dewata bernama Ketut Deni Ariasa dituntut oleh PT.Karya Tangan Indah (KTI) dengan tuduhan menjiplak motif ukir yang sudah dipatenkan oleh perusahaan tersebut. Memang sepintas hal tersebut sangat diharamkan/ dibenci banyak seniman di Indonesia ataupun di dunia Internasional, baik seniman yang bergerak dalam bidang seni rupa,seni suara, seni perfilman dan mungkin seni – seni yang lainnya dimana pembajakan , penjiplakan, atau apalah namanya yang jelas meniru, mengcopy, membajak suatu hasil karya cipta seorang tanpa meminta izin atau sepengetahuan sang empunya adalah perbuatan yang melanggar hukum dan norma –norma kesenian yang tidak menilai dan menghargai betapa sulitnya seorang menciptakan suatu karya tersebut. Di zaman yang memang sudah tidak peduli lagi betapa sesuatu yang memang cara atau proses penciptaannya memerlukan waktu yang sangat lama demi terciptanya suatu karya bila hal tersebut berkaitan dengan urusan perut demi memenuhi kebutuhan sehari – hari. Baru – baru ini gencar sekali terdengar kampanye tentang Anti Pembajakan yang disuarakan baik oleh pemerintah dan para seniman tetapi apakah hal tersebut sudah efektif untuk menekan aksi pembajakan yang sering terjadi menimpa para seniman terutama seniman yang bergerak di bidang musik. Saya pernah menonton suatu acara televisi dimana saat itu Glenn Fredly sedang ditanya pendapatnya tentang aksi pembajakan yang marak terjadi dan banyak menimpa musisi Indonesia, dia menjawab “ memang hal tersebut sudah menjadi suatu industri yang sangat berkembang pesat di Indonesia”. Tetapi dia juga sangat tidak setuju dengan aksi pembajakan dikarenakan Glenn juga menjadi korban atas aksi pembajakan. Suatu ketika dia mengadakan press confress launcing album terbarunya ternyata sehari sebelum launcing album tersebut Glenn telah menerima CD dan kaset bajakan yang berisi lengkap album terbarunya.
    Memang sangat ironi sekali dimana kampanye anti pembajakan disuarakan ternyata hal tersebut tidak menghentikan aksi para pembajak – pembajak untuk menghasilkan lembaran rupiah tanpa menghargai jerih payah seniman tersebut. Memang kejadian yang menimpa Glenn dan pemusik Indonesia harus mendapat perlakuan yang serius dari aparat keamanan untuk menghentikan aksi para pembajak tetapi berbeda dengan apa yang dialami seniman asli Pulau Dewata (Ketut Deni Ariasa.red) yang satu ini dia dituntut karena Menjiplak Motif Ukir Tradisional Bali yang telah dipatenkan oleh warga Jerman melalui PT. KTI yang proses pematenannya juga dibiayai langsung oleh warga Jerman tersebut. Apakah membuat seni ukir yang motifnya asli Bali dan dilakukan oleh seorang yang berasal dari Bali pula haram hukumnya???. Apakah ini yang dinamakan “pembajakan” yang sebenarnya atau aksi para pembajak yang melakukan pembajakan kepada album Glenn dan pemusik Indonesia itu yang sebenarnya dikatakan PEMBAJAKAN, dimana peran pemerintah sebagai otoriter pemegang hak paten yang sebenarnya atas kejadian ini??? Apakah klaim Malaysia atas Reog Ponorogo dan Batik tidak membuat pemerintah Indonesia sadar bahwa diperlukan suatu regulasi yang jelas untuk mematenkan suatu seni yang notabennya merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia oleh warga asing secara legal. Akankah terjadi lagi hal yang sama untuk motif ukir tradisional Bali, yang juga merupakan salah satu tempat wisata yang menjadi surga bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Apakah kita ingin Bali dipetenkan menjadi milik warga asing ??? jawabnya tentu TIDAK!! Tetapi dimana letak hati nurani bangsa ini bila menjaga aset yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara juga sebagai warisan anak cucu kita dikalahkan dengan urusan perut demi merengkuh lembaran rupiah ataupun lembaran dolar. Apakah benar yang dikatakan bahwa segala sesuatu yang berharga di bumi pertiwi ini telah dijual kepada pihak – pihak asing yang mempunyai lembaran dolar yang melimpah seperti tambang minyak yang sebagian besar dikelola pihak asing dimana kapabilitas kita sebagai bangsa yang besar di mata dunia bila seluruh aset – aset yang sebenarnya diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat dijual dengan mudahnya kepada pihak asing. Akankah kita terus menjadi Budak pihak asing di negeri sendiri???? Saya sebagai seseorang yang tidak dibesarkan di Bali tetapi masih mempunyai ikatan batin dengan Pulau Dewata tercinta walau hanya sebuah nama yang mencerminkan seorang yang berasal dari Bali pemberian orang tua sejak kecil he..he.. Disisi lain saya sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh oknum PT.KTI yang dengan mudahnya mematenkan motif tradisional Bali dengan hak ciptanya dimiliki oleh warga Jerman. Mungkin nama PT.KTI (Karya Tangan Indah) seharusnya diganti PT.KTAI dengan kepanjagan Karya Tangan Asing di Indonesia ataupun Kayak TAI . Mungkin bangsa ini perlu belajar bagaimana menghargai jerih payah nenek moyang dalam menciptakan suatu karya seni yang saat ini diperebutkan banyak pihak.
    (sumber: ‘Melawan Paten Asing atas Motif Bali’.Jawa Pos terbitan Sabtu, 27 September 2008)
    Laks.Baja76copyright

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s