KONSPIRASI PENGALIHAN ISU BBM

Dalam Tragedi Monas, Bentrok yang Melibatkan FPI dan AKKBB

Tragedi yang terjadi, penyerangan Laskar Front Pembela Islam (FPI) terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menyisakan beberapa pertanyaan. Insiden yang terjadi Minggu, 1 Juni 2008 ini mengundang perhatian publik dan menjadi isu nasional di hampir seluruh media cetak dan elektronik dan berskala nasional. Masyarakat pun ramai membicarakan insiden ini. Sejumlah sumpah dan caci maki dilayangkan pada salah satu ormas Islam atas tindakannya yang mencederai beberapa orang di Monumen Nasional (Monas).

Aksi ini mengundang kecaman terhadap FPI dan terjadi di beberapa daerah. Dalam Edisi Rabu, 4 Juni Jawa Pos, menyebutkan seperti di Malang, lebih dari 600-an orang dalam Amara (Aliansi Masyarakat Malang Raya Anti Kekerasan) berunjuk rasa menentang kekerasan FPI di DPRD kota Malang. Di Surabaya, sekitar 100 orang anggota GP Ansor mendatangi Polwiltabes Surabaya. Tuntutan terhadap FPI agar dibubarkan marak di suarakan di beberapa daerah di Indonesia.

Namun pada tragedi yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan Bangsa ini menyisakan beberapa hal yang menurut penulis sedikit keanehan. Seharusnya, dalam kondisi permasalahan bangsa Indonesia yang carut marut, kejadian seperti ini tidak perlu terjadi, apalagi menyangkut bentrok yang mengatasnamakan keyakinan tertentu. Isu kenaikan BBM dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dianggap sebagai pembodohan bangsa dengan mengiming-imingi dengan sejumlah uang dan di berikan langsung kepada masyarakat sempat teralihkan sementara. Tragedi ini sejenak menggemparkan dan mengundang perpecahan antar masyarakat.

Dalam kejadian ini, Aparat hendaknya sigap dalam menanggapi kasus ini, dan tegas untuk segera menyelesaikan permasalahan. Tapi yang terjadi malah aparat seperti orang bodoh, dan pihak yang tidak bertanggungjawab terhadap kasus ini. Ironisnya pun jangankan aparat, pemerintah pun saling menyembunyikan tangan untuk mengatasi masalah ini. Maka menurut penulis, apakah kejadian ini melibatkan pemerintah di belakang?

Penulis tidak serta merta menjastifikasi bahwa ada permainan pemerintah di belakang layar. Tapi perlu kita membuka mata bahwa konspirasi ini perlu kita perhatikan. Pengalihan-pengalihan isu nasional ini sebenarnya adalah cara-cara lama yang pernah dilakukan oleh pemerintah. Dan turun temurun terjadi dari era Orde Lama, Orde Baru, lalu era Reformasi sekarang. Cerdik memang, tapi bodoh dan mengabaikan hal-hal negatif yang akan terjadi di masyarakat. Dan alhamdulillah bahwa masyarakat pun sekarang cukup pintar untuk tetap tidak melupakan bahwa permasalahan hidup bangsa sekarang adalah tentang kebijakan kenaikan BBM hampir 30% dan isu Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Kenaikan BBM dan memberikan subsidi langsung tunai berupa sejumlah uang menurut pemerintah adalah cara yang tepat untuk mengantisipasi dan meredam gejolak yang terjadi di masyarakat. Tapi sayang, kebijakan pemerintah ini sungguh tidak solutif dan tidak memperhatikan kepentingan rakyat. Pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman-pengalaman lama, bahwa begitu banyak masyarakat kelas bawah sangat tidak mendapatkan kesejahteraan. Janji pemerintah, sepertinya tinggal janji. Negera ini begitu kaya dengan alam tapi miskin dengan kesejahteraan rakyatnya. Negara ini terlalu banyak menjual nama ke luar negeri. Seharusnya negeri ini makmur dengan alamnya. Tuntutan-tuntutan masyarakat pun tak pernah didengarkan. Demonstrasi dimana-mana, sepertinya tinggal kenangan yang nantinya akan berlalu begitu saja.

Tuntutan masyarakat untuk segera menasionalisasi aset-aset negara khususnya pada Oil Company, tinggal menjadi berkas di bawah meja kerja pemerintah. Masyarakat melihat banyak hal yang seharusnya masih menjadi alternatif yang tepat untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM secara global ini. Tapi pemerintah terlalu lambat. Sepantasnya pemerintah lebih mereformasi birokrasi yang mempersulit subsidi dan memberantas oknum-oknum yang mencuri (Korupsi) terhadap subsidi BBM dan BLT ini. Pemerintah dituntut lebih cerdas untuk melihat dari sisi Rakyat Miskin. Pemerintah jangan malah membodohi masyarakat, dengan memberikan duit yang tidak sebanding. BLT ini pun akhirnya menjadi slogan masyarakat sebagai ”Bantuan Langsung Tewas”. Dan untuk tragedi ini, pemerintah harap segera menyelesaikan, jangan sampai ini menjadi tambahan kemelut permasalahan bangsa. Serta kepada Masyarakat, jangan sampai kita terbawa provokasi yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Mari kita jaga toleransi, bahwa negara kita adalah negara yang sangat meng-”Indonesia”, dengan pluralitas adalah kekayaannya. VIVAT

Oh Indonesiaku, tapi bukan milik bangsaku

Departemen Hubungan Masyarakat, HIMATEKLA, FTK – ITS

Iklan

5 thoughts on “KONSPIRASI PENGALIHAN ISU BBM

  1. oleh SIPIT bagi SEMUA untuk DIPIKIR

    1. Pemerintah terpilih tidak dengan sendirinya. Disadari atau tidak, terlepas dari cara memimpin & segala keputusannya, pemerintah dapat menduduki kursi pemerintahan atas izin TUHAN YME melalui kita. Bukankah bangsa kita telah melalui sebuah ritual yang disebut “PEMILU” !?!!

    2. Sebagai pihak pengambil dan pelaksana keputusan, tidak mungkin pemerintah mengambil keputusan secara sepihak tanpa pertimbangan bagi bangsanya. Saya pikir, pemerintah bukan seperti anak kecil (yang ingin sesuatu tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan orang tua, pokoknya HARUS mendapatkan keinginannya itu.

    Jadi, kesimpulannya :
    sebagai RAKYAT bukankah sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membangun Indonesia, BERSAMA PEMERINTAH.
    Saya pikir, tidak adil bila kita menganggap pemerintah kita menjadi penyebab kesengsaraan rakyat banyak yang terjadi dewasa ini. Mengapa ? Karena SUDUT PANDANG KITA BELUM TENTU SAMA DENGAN SUDUT PANDANG PEMERINTAH, tetapi PEMERINTAH pasti telah MEMPERTIMBANGKAN apa yang akan terjadi kemudian setelah sebuah KEPUTUSAN dikeluarkan.

    Dari dasar jurang / di kaki sebuah gunung, kita memang merasa aman dan terlindungi. Tapi kita hanya bisa melihat tingginya langit, terjalnya tebing, ato mungkin hanya bisa membayangkan melihat indahnya mentari yang terbit tanpa suatu bangunan / pohon pun yang menghalangi.
    TAPI..
    Dari puncak sebuah gunung, kita memang merasa puas telah melewati terjalnya tebing, kita serasa begitu dekat dengan langit, dan kita memang bisa melihat mentari yang terbit tanpa terhalangi bangunan/pohon pun. Tapi bila hari beranjak siang, panas terik langsung menerpa tanpa pelindung, angin yang menyapu sangat kencang (jjaaauuuhhh lebih kencang dari angin di kaki gunung) dan sangat beresiko.

    DARI KAKI GUNUNG, KITA HANYA MELIHAT SEBUAH KOTA SEPENAMPAKAN (karena terhalang oleh bangunan di kota itu, karena g mungkin suatu kota hanya “polos” tanpa bangunan) SAJA. TAPI DARI PUNCAK GUNUNG, KITA DAPAT MELIHAT HAMPIR SELURUH KOTA (tergantung kekuatan mata/kemampuan lensa mata untuk berakomodasi)

    Kita, jika hanya berpikir sebagai orang bawah, hanya bisa melihat banyak anak kecil yang menangis kelaparan, ibu-ibu yang mengantri membeli minyak tanah/menerima BLT (yang kadang panjang antriannya bisa memasuki kisaran kilometer) dan mungkin bapak-bapak yang berangkat “membanting tulang” di kala subuh dan baru pulang saat menjelang subuh.
    Tapi..
    Andai kita berpikir sebagai pemerintah, kita tidak hanya melihat di dalam negeri, tapi kita akan melihat nasib TKI di negeri tetangga yang belum tentu nasibnya, berbagai bencana yang terjadi di India, bencana kelaparan di banyak negeri Afrika, perang saudara di Filipina, dan HARGA MINYAK DUNIA yang naik hingga berada dikisaran 140rb dolar(maaf bila salah dalam penulisan harga minyak) per barel, dll.

    Jadi, sebagai rakyat, tidak seharusnya kita membuat “BUDREK” (buat pak Murtedjo, istilah bapak boleh saya pinjam kan?? :)) dengan berbagai opini yang seperti mengadili, menyalahkan (dsb) pemerintah.
    Bila dalam hal ini kita merasa terbebani dengan keputusan pemerintah yang menaikkan harga BBM, bukankah kita bisa mengurangi beban kita tersebut dengan cara BERHEMAT !?!!

    Saya percaya, kita sudah cukup dewasa dan terpelajar dalam menyikapi situasi yang seperti ini.

    Nb (bagi pihak HIMATEKLA yg posting argumen yang jadi bahan diskusi ini) :
    Saya pikir, sebagai bahan diskusi (BUKAN BAHAN GOSIP, yang digosok makin siippp… :)). tulisan saudara terlalu argumentatif, dan tampak sekali bahwa saudara kurang pertimbangan dalam penyusunannya..Mohon perhatiannya, demi kemajuan bersama dan menghindari sesuatu hal yang tidak kita inginkan yang mungkin dapat terjadi..

    Sebagai bahan pertimbangan, coba saudara rasakan dan telaah, apa asumsi yang mungkin muncul dari kalimat ini :
    “Penulis tidak serta merta menjastifikasi bahwa ada permainan pemerintah di belakang layar.”

    Akhirnya, beribu maaf bila ada salah kata dan bila mungkin ada pihak yang tersinggung. Tapi jujur, tidak ada maksud jelek sedikit pun..SUMPAH ez..

    terima kasih..
    🙂

    oleh SIPIT bagi SEMUA untuk DIPIKIR

  2. oiy, bagi semua yang mungkin merasa tersinggung/bahkan marah karena tulisan saya diatas, saudara bisa menemui saya langsung. Saya kira, saudara tahu kapan, dimana dan bagaimana menemui saya..

  3. Karena SUDUT PANDANG KITA BELUM TENTU SAMA DENGAN SUDUT PANDANG PEMERINTAH

    He3x… Sy salut sm yg coment diatas. Coz akhirnya tulisan kontroversi ini bisa benar2 jd kontroversi.

    1. Pertanyaan pertama, kapan ya pemerintah bisa punya sudut pandang yang sama dengan rakya?
    Hu… hu… hu… Rakyat, kasihan kalian ternyata yg ada bukan pemerintah yg bakal melihat sudut pandangmu, tp kalianlah yg harus melihat sudut pandang pemerintah (T T), hiks hiks hiks (nangis beneran neh)

    2. Pertanyaan kedua, solutifkah BLT itu? dngan menaikkan BBM dan mengiming-imingi dngan BLT (Bantuan Langsung Tewas!)

    “Andai kita berpikir sebagai pemerintah, kita tidak hanya melihat di dalam negeri, tapi kita akan melihat nasib TKI di negeri tetangga yang belum tentu nasibnya, berbagai bencana yang terjadi di India, bencana kelaparan di banyak negeri Afrika, perang saudara di Filipina, dan HARGA MINYAK DUNIA yang naik”

    Oh my God, Sekali lg Tuhan, kasian skali rakyat ini. Kapan Pemerintah melihat rakyatnya, jangankan merasakan penderitaan mereka, mlihat dari sudut pandang rakyat aja kata yg komen di atas ini, sy melihatnya ga bakal pernah kyaknya.

    Ha ha ha… Ngapain pemerintah sibuk2 ngurus luar negeri, dalam negerinya berantakan gini! Aneh, disaat rakyat kelaparan, eh malah sombong2 ngirim bantuan finansial keluar negeri. Apa ga bodoh tuh? Cerdas seh, biar bisa PUNYA NAMA TAH dikancah internasional? He3x cara2 lama…

    Ok, buat saudara sipit, smoga aja msih bisa membaca ya… Jngn cuma bc berita yg adanya pidato pak Presiden donk, cobalah dikit2 nonton berita rakyat yg ksusahan… Sdikit2 naik coba kemana2 naik Angkotlah, biar kamu ngerasain sndri betapa beratnya beban rakyat harus menanggung ulah pemerintah ini. Sopir ngamuk2 kalau bayaranx cuma 2000, HARUS 3000! Pdahal cm ITS sampe Unair. Yah klw orang skelas kamu seh yg mampu mngkin ga masalah tp yang jauh di bawah kelasmu?
    Yg mngkin km sndiri sring amati, diskitar keputih sana, yg tiap pagi bngun, ngumpulin barang2 bekas, kertas bekas, dll. Atw pnggilan terhormat mereka “PEMULUNG!”.

    Apakah mereka harus melihat sudut pandang pemerintah? Yg mana yg etis? Ataukah pemerintah yg harus lihat dr sudut pandang mereka?

    Kalau mnurut sy seh, tulisan diatas ga menjastifikasi bgitu aja. Mngkin sampean kurang baca berita2 dkoran2 kontroversi ya. Tulisan diatas mirip dngan konspirasi dari intelektual LIPI lho! Tau LIPI kan? (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

    Kurang pertimbangan mnurut sy ga juga, soalnya kita kita brpikir, eh maaf membaca dulu sbnarnya. Kita mngkin jngn trll sring mmbaca hal2 yg tekstual ya, tp mmbaca lingkungan jg. Bacalah lingkunganmu yg bgitu sedihnya mereka! Apakah etis kamu memaksakan kebijakan dari perspektif pemerintah kepada mereka?

    Oh TUhan…

    Indonesiaku semakin tidak menjadi milik Bangsaku…

    Silahkan dikroscek dahulu, sbelum sy mmberikan data2 yg mematahkan bhwa Kebijakan Pemerintah sangat tidak Solutif & mmihak pd Rakyat mnyangkut Kbijakan kenaikan BBM…

  4. pemikiran diatas cukup beralasan… saya salut sama comment diatas, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa teknik kelautan juga memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis dan saya juga harapkan tidak hanya kritis tapi juga solutif…

    yang perlu kita ingat pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya…;)

    emang permasalahan bangsa ini sangat kompleks kawan…

    disatu sisi kita mengkritisi satu kebijakan pemerintah, tapi disisi lain pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru yang mengedepankan nilai ekonomi, stategi tapi bukan mengedepankan nilai kemanusiaan, kasih sayang…

    kalau emang g bisa untuk tampil diluar, kenapa mesti dipaksakan??? lebih baik pemerintah menata kehidupan didalam negaranya dulu,

    apa artinya?jika diluar negeri kita dipandang makmur, aman, tapi ternyata berkebalikan dengan anggapan itu….

    sistem negara ini saya akui memang udah carut marut…. mulai dari kolusi akan jabatan dan lainnya…

    ya begitulah kawan, saya mengajak saudara2 semua mari kita memaksimalkan peran dan fungsi kita sebagai mahasiswa,

    “tidak ada kata penindasan lagi”
    “tidak ada kata acuh tak acuh lagi”
    mari suarakan, suarakanlah hati nuranimu

    Syamsul

  5. Salam untuk Indonesia..
    Salam untuk kita semua..

    Apakah penyerangan ini murni karena perbedaan pandangan berkeyakinan?
    Kita harus saling mengingatkan untuk tidak terjebak menjadi reaktif dalam kasus tsb..
    Jangan sampai kita terseret dan dimanfaatkan dalam kepentingan politik praktis..
    Kita harus bersikap pro-aktif untuk menemu-kenali maksud dibalik smuanya.

    Kasus di Monas tsb merupakan sebuah kebetulan yang disengaja..
    Ada sebuah permainan politik didalamnya..
    Dari sudut pandang intelijen dapat ditarik benang merah bahwa ada “otak” d balik ini semua..
    Apakah pemerintah terlibat di dalamnya?
    kejadian ini menjadi menarik karena terjadi hanya beberapa hari setelah dicabutnya subsidi bbm untuk rakyat sebesar tiga puluh persen..
    Bentrokan antara aparat dan mahasiswa yang terjadi sebelumnya akibat penolakan naiknya harga bbm di beberapa kampus hanya menjadi angin lalu bagi pemerintah kita..
    Alih alih mendengar tuntutan rakyat dan mahasiswa untuk membatalkan kenaikan harga bbm, pemerintah justru mengalihkan isu tersebut dan membuat konflik horizontal di kalangan akar rumput..
    Insiden penyerangan AKKBB oleh FPI menjadi isu yang ampuh agar masyarakat bisa terlupa dengan isu kenaikan harga bbm..

    Analisis ini dapat kita lihat sebagai berikut.
    1. demonstrasi damai yang dilakukan oleh akbb dalam memperingati hari kesaktian pancasila tanpa pengamanan yang ketat dari parat keamanan bahkan hanya segelintir aparat yang menjaganya., itupun dari kejauhan
    2. ketika massa FPI datang mendekati dan memulai serangan terhadap massa AKKBB aparat keamanan datang terlambat tanpa berusaha melerai, dari beberapa pelaku penyerangan tidak ada yang diamankan dari massa FPI walaupun jelas jelas telah melanggar hukum
    3. pasca insiden monas presiden langsung mengeluarkan statement mengutuk serangan terhadap aksi damai tapi tidak ada tindakan tegas dari aparat di bawahnya, baru setelah 4 hari kejadian adanya penangkapan terhadap anggota FPI.
    4. media massa memblow up berita ini dengan berlebihan mengurangi frekuensi berita lain tentang naiknya harga sembako akibat kenaikan harga bbm.

    Strategi pengalihan isu oleh pemerintah telah beberapa kali dilakukan ketika ada keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat..
    kedaulatan pemerintah yang telah tunduk terhadap kekuasaan ekonomi asing tampaknya terjadi juga di dalam negeri yaitu tidak berdaya menangani tindakan kekerasan yang dilakukan secara terorganisir oleh kelompok berjubah agama..

    Terlepas dari benar tidaknya analisa d atas..
    Sedih memang melihat kondisi umat Islam Indonesia sekarang ini..
    Mudah sekali kita d adu domba..
    Masing-masing dari kita menganggap bahwa hanya diri/golongan’nya lah yang berada pada kebenaran dan yang lain berada pada jalan kesesatan bahkan kekafiran..
    Tidak jarang, prinsip itu ditindaklanjuti dengan aksi-aksi kekerasan untuk menumpas golongan yang lain..
    Coba sama2 kita renungkan surat An-Nahl ayat 125 bahwa hanya Tuhanlah yang lebih mengetahui siapa-siapa yang tersesat dari Jalan-Nya dan siapa-siapa yang pendapat petunjuk-Nya..
    Jadi sdikit memberi pemahaman bahwa kita ini sebagai makhluk yang parsial tentunya sangat sulit untuk mengetahui kebenaran yang tidak bersifat parsial tetapi menyeluruh dan mutlak..
    hanya Tuhanlah Yang Maha Mengetahui..

    Jayalah Indonesiaku..
    Bahagia selalu Indonesiaku..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s