GENERASI Yang PHOBIA Atau… PARANOID?

Sepertinya kita perlu merenungkan secara dalam terhadap judul di atas, melihat beberapa hal yang terjadi pada masyarakat khususnya generasi saat ini. Ini disebabkan dengan berbagai isu-isu yang “memprovokasi” (provokasi tanda kutip) masyarakat terhadap hal-hal yang irrasional. Aneh memang tapi fakta di masyarakat.

Mari kita awali dengan pertanyaan, Apakah generasi Indonesia saat ini adalah generasi yang paranoid yang hidup dalam ketakutan?

Paranoid yang berasal dari bahasa Yunani, para-noia (para = di luar, noia = pikiran) telah menghantui generasi saat ini. Generasi telah terlalu sering mempercayai hal-hal irrasional. Ini memberikan noda merah terhadap generasi muda. Kita bisa menerawang dari beberapa kasus yang menyebabkan mudahnya masyarakat terprovokasi. Kita lihat kasus-kasus tersebut :
(1) Kasus pertama, generasi sangat phobia terhadap isu-isu mistis yang menjamur. Sms layar merah sempat menakuti banyak masyarakat khususnya kalangan muda.
(2) Kasus kedua, trend saat ini di dunia film, film horor masih menempati rank teratas terhadap penjualannya di pasar dan sangat diminati oleh kalangan muda.
(3) Kasus ketiga, masyarakat khususnya generasi muda telah banyak mempercayai ramalan-ramalan dari peramal (dukun /paranormal) yang jelas-jelas belum tentu kebenarannya. Dan adapun kalau sedikit terjadi, menurut penulis, hal itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Maka hal yang fatal yang harus kita pertanyakan saat ini adalah bagaimana dengan kualitas keimanan kita sekarang?
(4) Isu yang paling santer sekarang adalah muncul dari infotainmen atas kontroversinya lagu dari ”Geby”.

Khusus pada kasus ke-empat adalah hal yang sangat lucu. Dari band dan produser yang merilis lagu tersebut. Seharusnya band dan produsernya lebih bersikap profesional dan tidak perlu mencari ketenaran dengan melakukan kontroversi terhadap lagu Geby tersebut. Toh kalau memang Geby yang diyakini adalah pencipta lagu dan telah meninggal karena bunuh diri, yah itu saja, cukup. Tidak perlu diumbar-umbar pada media. Kasihan kan, kalau memang Geby-nya telah meninggal lalu diperdebatkan. Toh kalau sudah meninggal, yah kita mendoakan sajalah, cukup. Biar arwahnya tenang (Lah, mistis maneh).

Lalu pada poin ketiga. Ini menjadi catatan merah kedua, untuk kembali bertanya, bahwa rasionalkah kita saat ini berpikir? Ini menyebabkan generasi tidak cukup berusaha untuk menentukan nasib sendiri dan alhasil kita lebih berorientasi pada fungsi hasil dari pada menghargai pentingnya proses. Generasi muda saat ini pun menjadi paranoid untuk menyikapi diri masing-masing.

Maka membudayalah paranoid ini. Hal-hal ini seharusnya tidak perlu diapresiasi oleh masyarakat. Karena khususnya generasi muda yang berpendidikan, kita bisa memilah-milah bahwa hal-hal yang irasional seperti ini hanyalah sebuah pembodohan terhadap masyarakat. Akibat dari budaya paranoid ini menyebabkan phobia kepada generasi muda. Generasi muda menjadi mudanya terprovokasi, generasi muda menjadi percaya terhadap para peramal (dukun/paranormal) padahal dimensi yang ada saat ini adalah kita berada di abat 21.

Pertanyaan, paling krusial, maka masih percayakah kita pada Tuhan? Mengapa kita tidak berikhtiar saja terhadap nasib. Toh, tak ada kan yang dapat merubah nasib kita selain kita sendiri? Kita tidak perlu merujuk pada ramalan-ramalan para normal. Dengan catatan bahwa kita adalah manusia yang beriman.

Tapi ada beberapa catatan yang direkomendasikan kepada akar dari permasalahan ini. Kepada mereka yang melahirkan budaya phobia ini. Kepada pihak-pihak yang berkecimpung di media cetak dan elektronik. Sepantasnyalah memberikan suguhan-suguhan yang mendidik kepada masyarakat. Jangan lebih mementingkan kapitalasasi dengan memperkaya diri dan membodohi masyarakat. Kepada pemerintah, sebaiknya bereaksi terhadap hal-hal ini karena yang jadi objek penyerangan adalah generasi. Bagaimana generasi kita kedepannya kalau budaya paranoid kental merasuki mereka? Dan kepada masyaarakat, khususnya generasi muda, marilah kita memperhatikan kembali terhadap hal-hal yang sangat mudahnya kita konsumsi.

Wassalam
Departemen Hubungan Masyarakat
Himpunan Mahasiswa Teknik Kelautan

Iklan

One thought on “GENERASI Yang PHOBIA Atau… PARANOID?

  1. Mantap sekali komentar sodara………………..

    Perkenalkan sy………….
    Mahasiswa Teknik Kelautan Jurusan Perkapalan Universitas Hasanuddin
    sy ndk perlu bnyk komentar kwn,cm satu yg perlu sy grs bawahi, Bahwa
    Kebiasaaan Masyarakat bangsa kt, yg selalu serba instan…..
    tanpa mw berusaha….dan Takdir diatas Segalanya, mksd sy trlalu mengedepankan takdir
    dan pd akhirnya Irrasional mengalahkan Rasionalitas kt….

    Salamku Sama Teman-teman Teknik Kelautan …..

    bravo………….Teknologi Maritim Indonesia

    zack’09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s