IMPERIALISME BIAS NEGARA ADIDAYA (AS) TERHADAP KEDAULATAN INDONESIA

Dalam Pemberian Pinjaman Luar Negeri

 

 

Negara mana di belahan dunia yang tak mengenal Amerika? Yah, seperti itulah Amerika. Adalah sebagai awal membuka kembali pengetahuan kita. Amerika adalah figur Negara yang telah menjadi “tuan rentenir” terhadap kedaulatan Negara-negara berkembang di dunia. Berawal datang sebagai “dewa penyelamat”,  dengan menawarkan bantuan ekonomi, lalu berakhir sebagai “dewa penghancur”. Tak disangkal bahwa Amerika adalah Negara yang memiliki kekuatan politis yang utuh dalam pembuat kebijakan-kebijakan politik, baik politik ekonomi, militer, informasi, dan politiknya politik.

 

Amerika memiliki ambisi besar sebagai penguasa di dunia. Maka tentunya Amerika memiliki strategi politik yang solid untuk mencapai ambisi itu. Salah satunya adalah dengan strategi politik ekonomi. Tak heran bila Negara ini menempuh jalan untuk memperkaya diri dari sisi ekonomi, lalu menjalankan kooporasi dengan sekutunya memiskinkan Negara-negara lain di dunia khususnya Negara-negara berkembang, dan Indonesia masuk dalam lingkaran setan politik itu.

 

Indonesia dalam Lingkaran Setan dan Degradasi Karakter Bangsa

Indonesia sejak memproklamirkan sebagai Negara yang berdaulat dan merdeka pada tahun 1945 telah menjadi bidikan intensif Amerika. Dan metodenya sangat ampuh, karena langsung pada titik permasalahan Negara baru yaitu “ekonomi”. Namun, Soekarno Presiden RI pertama telah memahami politik busuk ini, sehingga beliau mati-matian berusaha menolak semua tawaran Amerika. Soekarno juga berusaha agar bagaimana bangsa Indonesia mempertaruhkan kualitas idealismenya sebagai bangsa yang mandiri untuk menolak bergantung pada bangsa lain. Bahkan Soekarno membuat sebuah idiom yang terkenal “go to hell with your aid”. Sampai akhirnya beliau lengser, beliau tetap berusaha untuk menyuarakan kemandirian bangsa dengan membangun karakter yang biasa disebut “character and nation building”.

 

Lengsernya Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai Presiden ke-2 Indonesia menjadi pembuka jalan licin bagi Amerika untuk menjalankan politiknya ke Indonesia. Lalu, kebijakan Soeharto yang sangat bertolak belakang dengan kebijakan sebelumnya, yang kalau Soekarno anti modal asing, sedangkan Soeharto membuka lebar-lebar untuk modal asing dan hutang luar negeri.

 

Hutang bermula

Soeharto sangat terkenal dengan kebijakan ekonominya yang disebut “Pembangunan” sehingga julukannya pun sebagai “Bapak Pembangunan”. Tapi sesungguhnya kita harus melihat lebih jauh bahwa pembangunan apa yang tak terlihat. Dengan kebijakan ini, Indonesia memimpikan akan menjadi Negara yang sama dan sejajar dengan Negara-negara besar lainnya di dunia dan suatu waktu akan menjadi Negara “industrialized”.

                                                                     

Seorang pakar Mahbub UI Haq, mengatakan bahwa pola pembangunan seperti ini adalah pola pembangunan palsu (the catching up fallacy). Karena bagaimana mungkin Negara berkembang akan menjadi besar dengan mengandalkan utang dari pihak asing? Haq mengilustrasikan bahwa tidak mungkin Negara penghutang dengan pertumbuhan di bawah 5% menjadi sejajar dengan Negara pemberi hutang yang tumbuh di atas 5%. Sehingga Negara penghutang akan terus ketinggalan terhadap Negara pembeli kredit. Akibatnya mental hutang ini turun temurun menjadi warisan kepada generasi berikutnya. Dan alhasil masa sekarang ini, yang menjadi masa depan pada masa lalu, adalah bangsa yang cukup suram. Lalu bagaimana masa depan bangsa ini nantinya? Berikut warisan utang Indonesia yang sangat meningkat drastis dari masa ke masa.

 

Grafis hutang Id

Grafis hutang Id

Siswono Yudohusodo menyatakan bahwa pada era Soekarno, jumlah utang Indonesia mencapai 2.5 Milyar US$, lalu meningkat pada era Soeharto menjadi 54 Milyar US$, era Habibie 74 Milyar US$, dan era Megawati menjadi 76 Milyar US$ (lihat grafis). Hutang ini belum ditambah hutang swasta yang juga menjadi tanggungan pemerintah. Praktis dalam tahun 2004, hutang Indonesia menjadi 136 Milyar US$. Maka jika dikalkulasi, hutang swasta    136 – 74 = 64 Milyar US$.

 

 

 

 

Dalam kasus hutang, hutang yang sehat adalah hutang yang jumlahnya semakin kecil. Namun ironisnya dengan Indonesia, hutang malah kita malah membengkak. Ini tentu dikarenakan pola “pembangunan yang tidak sesuai”. Beberapa faktornya adalah :

       faktor korupsi (Korupsi berjamaah)

       birokrasi

       salah kelola

       pinjaman yang terus ditambah

       bunga yang tinggi

       maksud terselubung oleh Negara adidaya

 

Prof. Dr. Jeffrey Winters menyatakan Korupsi yang dilakukan bersamasama oleh elit-elit penguasa/birokrasi Indonesia bersama Bank Dunia mencapai sepertiga (33,3%) dari total hutang. Faktor tambahan yang menyebabkan hutang terus membengkak adalah pelarian uang Negara ke luar negeri. Uang-uang tersebut banyak yang dilarikan kenegarakenegara yang dianggap aman dan juga ada yang dimasukan dalam perusahaan-perusahaan asing yang dianggap bonafit. Untuk itu Stritua Arif berkomentar :

Saya sungguh terkejut, tertegun dan terharu tatkala diperlihatkan hasil study yang berkaitan dengan hutang luar negeri Indonesia. Seorang ekonom muda dari Center For Policy and Implementation Studies (CPIS) menunjukan bahwa kasus Argentina telah terjadi di Indonesia. Orang-orang yang menumpuk harta pribadi di luar negeri melalui pelarian modal dari Indonesia telah meninggalkan beban hutang luar negeri bagi nusa dan bangsa.” (Arif. S. 1999 : 114).

 

Hutang luar negeri Indonesia tidak semua berbentuk Hibah sehingga menyebabkan hutang-hutang ini terus membengkak. Maka  semua ini jelas bahwa keinginan Negara-negara adidaya menjalankan imperialismenya pada Indonesia. Komentar seorang eks. Agen CIA dalam bukunya menuliskan bagaimana penguasa Amerika Serikat memang sejak dulu sudah melakukan rencana jahat untuk membangkrutkan Indonesia. (Peter Rosler Garcia, Kompas 6 April 2005).

 

Alhasil Indonesia tak dapat berbuat apa-apa selain hanya bisa mencicil bunga hutang-hutang tersebut dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, sampai batas yang tak dapat diprediksi.

 

Pemerintah saat ini telah berusaha dan susah payah untuk bagaimana cara mengemboskan jumlah hutang Indonesia. Pemerintah mencoba merekonstruksi ulang hutang Indonesia dengan mengusulkannya kepada Bank Dunia, namun alhasil, hal tersebut ditolak! Alasannya rekonstruksi dinilai tidak signifikan lantaran jumlah pinjaman dari lemaga keuangan itu hanya sedikit dibandingkan dengan total pinjaman pemerintah. Hal ini disampaikan oleh Presiden Bank Dunia, Paul Wolfoits saat berkunjung ke DPR RI tahun 2006 dalam menanggapi pertanyaan anggota panitia anggaran Hafiz Zawawi. (TEMPO Interaktif, Jakarta, 2006).

 

Tahun 2006, total hutang Indonesia kepada Bank Dunia mencapai 80 triliun Rupiah, tapi setiap tahunnya Indonesia harus membayar hutang 140 triliun rupiah meliputi hutang pokok 63 triliun rupiah dan cicilan bunga hutan 75 triliun rupiah. Bayangkan dengan tahun-tahun berikutnya? Ditambah hutang Indonesia yang baru, mencapai US$ 400 – 500 juta untuk 2 program dan sekitar US$ 700 juta untuk 6 proyek antara lain proyek water supply. (TEMPO Interaktif, Jakarta, 2006).

 

Perlu diketahui bahwa pinjaman-pinjaman ini bersifat paksaan Bank Dunia kepada Indonesia. Stritua Arif mengatakan :

Dalam situasi sekarang, kita harus terus meminjam dari luar negeri untuk membiayai pembayaran kepada pihak luar negeri. Kita terus membayar cicilan hutang luar negeri, bunga hutang luar negeri dan keuntungan investasi asing yang ditransfer ke luar negeri. Dalam situasi seperti ini, kita sebetulnya berada dalam suatu ekonomi tutup lubang gali lubang. Sementara itu kalau kita lihat kemana penerimaan bersih devisa yang kita terima (setelah memperhitungkan import barang dan penerimaan jasa-jasa). Maka kita lihat bahwa secara pukul rata hamper seluruhnya telah digunakan untuk pembayaran kepada pihak-pihak asing. Dalam situasi seperti ini, kita sebetulnya sadar atau tidak sadar bekerja untuk pihak asing. Penerimaan ekonomi luar negeri Indonesia dapat dikatakan adalah dari asing untuk asing dan kita adalah kuli pihak asing. Ini sungguh merupakan sesuatu yang menyedihkan sebagai bangsa yang berdaulat dan politis merdeka. (Arief S, 1987 :47)

 

Ironis, seharusnya sebagai pihak pemberi pinjaman, melihat Indonesia sangat sulit untuk membayar hutang, namun mereka tetap dan terus saja memberikan pinjaman tersebut. Hal ini tentu karena adanya misi terselubung terhadap Indonesia, yakni menjalankan imperialismenya menyerang Indonesia dari sisi ekonomi dan melululantahkan karakter bangsa sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

 

Posting by :

Departemen Hubungan Masyarakat

Himpunan Mahasiswa Teknik Kelautan

 

Sumber :

Hutapea Reinhard, “Dampak Hutang Luar Negeri terhadap Ekonomi Politik Indonesia”, 2005, Jakarta

Tempointerkatif, “Bank Dunia Tolak Rekonstruksi Utang Indonesia”, Tempointeraktif.com, Jakarta

http://thevaj.wordpress.com/2008/06/03/agenda-mendesak-bangsa-selamatkan-indonesia

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “IMPERIALISME BIAS NEGARA ADIDAYA (AS) TERHADAP KEDAULATAN INDONESIA

  1. hmmm….ati dri sbuah idealisme…
    klo kta melihat sbuah latar belakang yg curam,kta g akn bsa utk mlihat/membuka mata dalam kedepannya..sprti hdup tnpa sebuah masa depan,sekarang yang sudah terjdi tdak akn bsa kmbli lgi,klo itu dijadikan sebagai peljran its fine…but jka kta memikirkan itu tndakan yg berlarut2 buat ap utk didiskripsikan klo perihalnya tdak bwt kta berkembang…
    sekarang kta melihat kedepan sebagai peran fungsi mahasiswa tehnik,yaitu bwt suatu pengembangan yg bsa menghasilkan karya yg dpat membntu baik masyarakat ataupun negara…

    vivat kelautan!!!

  2. Buatlah yg terbaik untuk masyarakat di sekitarmu, niscaya yg terbaik buat bangsa telah kamu laksanakan. Maju terus Teknik Kelautan.Waktu tidak akan pernah berhenti, jangan kemudian penyesalan yang akan terjadi.

    Vivat Teknik Kelautan !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s