Sumpah Pemuda dalam Perjalanan 80 Tahun

Selamat hari Sumpah Pemuda!

Refleksi 80 tahun, Pemuda Indonesia menggoreskan sejarah untuk berikrar dalam satu rumusan kerangka bangsa Indonesia, dalam satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa. Sejarah pemuda adalah alasan mengapa mereka perlu dikenang. Atas sebuah gairah, kegetiran, dan optimisme untuk satu tujuan mewujudkan kerangka himpunan pulau-pulau di ibu pertiwi.

Begitu pentingnya sejarah, sehingga Soekarno dalam kutipan kalimatnya pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Pahlawan adalah bagian terpenting yang tak lepas dari sejarah. Maka sangat penting untuk kita kembali mengingat-ingat siapakah tokoh-tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia, khususnya para kaum muda. Meskipun masih dalam sebatas mengenang, setidaknya adalah sebuah usaha untuk mewacanakan kita bahwa sebagai mahasiswa adalah bagian dari pemuda sebagai subjek utama dalam dinamika pergerakan di Indonesia. Maka begitu indah jika kita menghargai sejarah dengan mengenang mereka.

 

Sejarah Sumpah Pemuda

Sumpah pemuda adalah sebuah rumusan Pemoeda-Pemoedi Indonesia pada waktu kongres Pemuda II yang berlangsung tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Pembacaan sumpah pemuda terjadi pada hari kedua yakni pada tanggal 28 Oktober 1928 yang kemudian dikenal sebagai hari Sumpah Pemuda. Adapun isi sumpah setia tersebut adalah :

 

 

·           PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

·           KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

·           KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Gagasan brilian ini atas penyelenggaraan Kongres Pemuda II oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajaran Indonesia (PPPI). Kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda. Adapun agenda-agendanya :

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB). Saat itu ketua PPPI Soegondo Djojopuspito mengkobarkan semangat persatuan kepada para pemuda. Kemudian dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Beliau mengutarakan, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hokum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop. Dalam rapat kedua, yang menjadi topic pembahasan adalah pendidikan. Kedua pembicara, yakni Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro. Keduanya berpendapat bahwa anak harus mendapatkan pendidikan kebangsaan. Harus ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus mendapatkan pemahaman pentingnya demokrasi.

Lalu sesi berikutnya dilanjutkan oleh Soenario yang menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Kemudian ditambahkan oleh Ramelan yang mengemukakan bahwa gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional.

Sebelum Kongres ini ditutup, untuk pertama kalinya, lalu “Indonesia Raya” diperdengarkan oleh Wage Rudolf Supratman dengan memainkan biola saja atas saran Sugondo. Lagu ini sangat disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kemudian rapat ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres dan oleh para pemuda, rumusan ini diucapkan sebagai “Sumpah Setia”.

 

Posting by :

Dept. Humas Himatekla

Pustaka :

http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s