Comment to About Me [ Be te we… ]

Assalamu’alaikum wr. w.b.

Teriring salam dan doa, semoga senantiasa dilimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dalam menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Amiin.

Saya cukup tertarik dengan tulisan yang telah dipublikasikan oleh saudara saya tercinta, Youda Z yang kurang lebih isinya tentang “About Me”-nya beliau. Tulisan (yang menjadi sengketa siapa penulis sesungguhnya) tersebut cukup mengajak kita untuk berpikir kembali tentang defenisi “baik atau buruknya” sesuatu dan juga “cantik atau jeleknya sesuatu” yang penilaiannya subjektif maupun objektif.

Dalam tulisan tersebut, penulis terkesan bingung mendefinisikan diri sendiri (tampan atau tidak tampan) dengan mengkomparasikan defenisi cantik dari seseorang. Sampel yang dijadikan objek perbandingan adalah Sandra Dewi. Hal ini dapat dilihat pada kalimat :

“Coba adik renungkan, Sandra Dewi itu cantik atau gak?”, saya pun menjawabnya, “Ya cantiklah”. [….] “Kalau gitu bagaimana atau mengapa orang bisa disebut cantik, apa matanya dua, atau senyumnya mirip Sandra Dewi tapi mukanya mirip Omas, atau barangkali yang mirip Cuma rambutnya atau semuanya mirip Sandra Dewi itu cantik?”

Nah, sampai disini kita dapat melihat penulis bingung mendefinisikan cantik dan jelek (lebih etis kita pakai tidak cantik saja, ya?). Jika perbandingan cantik atau tidak canitk sudah mengerucut pada defenisi yang jelas maka tentu dengan mudah parameter tersebut dikonversikan ke dalam defenisi tampan dan tidak tampan kan? Melihat kebingungan saudara saya ini, saya pun merasa berkewajiban memberikan opini tentang definisi cantik atau tidak cantik.

Saya tidak mengambil defenisi dari aspek harfiah (sesungguhnya ini perlu). Karena kalau secara harfiah, tak ada jawaban lain dari defenisi ini selain mendasarinya pada buku besar Kamus Bahasa Indonesia. Tapi bukan berarti kita membiarkan logika berpikir kita mati untuk mengambil asumsi terdekat, bukan? Nah, maka saya memberikan opini saya melalui pendekatan logika berpikir manusia.

Pada dasarnya semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia adalah berpikir. Termasuk hal2 yang terjadi dalam anatomi manusia. Karena semuanya (sistem saraf manusia) berpusat pada otak. Namun kegiatan2 ini dibedakan menjadi kegiatan yang tidak disadari juga kegiatan yang disadari. Contoh yang tidak disadari adalah proses-proses aliran darah yang terjadi pada manusia, ketika kita tersengat kita langsung bereaksi dan mendefinisikan bahwa itu sakit. Sedang yang disadari adalah terjadinya proses pemilihan “ya” atau “tidak”. Contohnya, memilih makan atau tidak, membedakan panjang dengan pendek, serta mendefinisikan cantik/tampan dengan tidak cantik/tidak tampan.

Perbandingan cantik/ dan tidak cantik/ ini adalah kategori berpikir yang disadari. & ini terjadi atas keterlibatan otak kiri dan otak kanan manusia. Dalam logika berpikir manusia, otak kiri dipakai sebagai intelektual tools manusia. Sedangkan otak kanan adalah emotional tools. Pada otak kiri terjadi dua proses berpikir, yaitu berpikir dengan logic analytic systematic linier dan berpikir dengan detail perfection mikro. Lalu pada otak kanan terjadi dua proses berpikir pula, yaitu berpikir dengan the human aspect & berpikir dengan konsep makro. (Herman Brain, 1992 – 1995).


Dengan menggunakan otak kiri, kita cenderung berpikir analitis, sistematis, dan bahkan memperhitungkan sampai pada hal2 yang sangat kecil. Dengan menggunakan otak kiri pun kita cenderung menilai sesuatu secara parsial2 lalu kita membandingkannya. Atau intinya, dengan menggunakan otak kiri, proses berpikir manusia adalah hanya dengan menggunakan intelektualitas manusia (Intelectual Q). Sedang dengan menggunakan otak kanan, kita cenderung berpikir lebih fleksibel dan dinamis. Berpikir dengan menilai pada aspek manusiawi, berpikir dengan rasa, serta cenderung menilai sesuatu secara keseluruhan dan bahkan mengabaikan kecacatan parsial (jika ada). Atau intinya, berpikir dengan menggunakan aspek emosional manusia (Emotional Q).

Lalu, bisakah kita mendefinisikan cantik/ dan tidak cantik/? Kalau bisa, dengan menggunakan otak mana? Jawabannya bisa dong, sederhana sekali. Kita berpikir dengan menggunakan kedua otak kita. Tapi disini terjadi pendefinisian dengan tiga kali.

Pertama, mendefinisikan cantik/ hanya dengan otak kiri. Ini meliputi tingginya, halus kulitnya, rambutnya (bagus atau gak), bentuk tubuh (langsung atau gak), normal tubuhnya (tidak cacat), dll.

Pada tahapan ini terjadi interaksi panca indera.

Kedua, keterpaduan otak kiri dan otak kanan. Yaitu warna kulit, rambut, senyum, mata, alis, kepintaran, kegoblokan, dll. (Interaksi panca indera masih terjadi)

Ketiga, adalah tingkatan berpikir yang lebih tinggi. Bisa jadi mengabaikan defenisi dari proses berpkiri pertama dan kedua tersebut. (interaksi dengan panca indera hampir2 diabaikan).


Nah, disini saya menegaskan bahwa mendefenisikan cantik atau tidak tersebut subjektif dan objektif. Sesuai selera sendiri dan atau sesuatu yang digeneralisasikan. Bukan berarti bahwa kita mendefinisikan cantik/ dan tidak cantik/ harus melewati ketiga proses tersebut. Tidak sama sekali. Kita dapat mendefinisikan hanya pada proses pertama saja. Hal itu sah-sah saja. Dan satu sama lain tidak dapat saling dikotomikan.

Khusus pada yang ketiga, disini cenderung terjadi penilaian yang sangat subjektif. Dimana hal2 yang kurang pada seseorang, bisa jadi itu kelebihan yang akan menjadikan seseorang menjadi cantik. Atau biar lebih jelasnya, hal2 pada dirinya yang tidak terdapat pada Sandra Dewi bisa jadi menjadikan seseorang itu menjadi lebih cantik. Contohnya dari penilaian subjektif saya, mengatakan “bagi saya Sandra Dewi biasa-biasa saja. Cewek idaman saya lebih cantik dari Sandra Dewi. Kekurangan Sandra Dewi karena tidak memakai Jilbab. Nah Jilbab bisa menjadi parameter pula kan, untuk mendefinisikan cantik atau tidak?

Lebih sensitif lagi kalau kita mendefinisikan cantik dari persepsi dari tuna netra. Nah, bagaimana defenisi cantik bagi mereka? Apakah dengan membandingkan Sandra Dewi? Ga mungkin kan? Oleh karena itu defenisi cantik/ganteng dan tidak cantik/tidak ganteng, adalah dua hal yang tak punya batas-batas signifikan yang terhenti. Tak ada penilaian absolute untuk mendefinisikan kata itu. Lalu mengapa kita bisa membedakan cantik dan tidak cantik? Hal itu terjadi karena naluriah manusia, yang terletak pada cipta, rasa dan karsanya. Hal2 itu telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia, sehingga kita tentu sudah tidak sulit lagi mendefinisikannya. Namun penilaian ini pun tentu perlu dikomparasikan antara subject yang satu dengan subject yang lainnya.

Cukup mudah bukan mendefinisikannya? Mendefinisikan diri sendiri kalau bingung, ya silahkan Tanya saja orang lain. Tapi hati2 lho jika meminta penilaian fisik dari orang lain. Karena pengalaman kawan2 saya, (maaf bukan riset) membuktikan orang2 disekitarnya cenderung tidak mengakui kelebihan fisik yang dimiliki orang lain. Mudah bukan?

jhanzanism


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s