“agent of change” or “change this agent”

Anda berkoar-koar ditengah jalan “jangan tindas rakyat!!!” Turunkan harga sembako!!! Turunkan menteri ini, turunkan kepala dinas itu”; kalau merasa tidak diacuhkan, biar kelihatan gagah dan style-an pejuang anda tidak segan untuk melayangkan batu-batu tak berdosa ke orang-orang tak berdosa juga. Lempar sana, lempar sini, dan selalu “tepat sasaran, head shoot”. Berbakat ngono loh, mbok ya jadi pemain softball, pasti sukses le!!! Selesai games lempar-lemparan, anda mulai main bakar-bakaran, anak kecil saja tahu kalau bakar sampah harus pada bak sampah supaya tidak menimbulkan bahaya. Namun anda membuat api ungun di tengah jalan raya. Sambil berteriak-teriak bak orang bar-bar. Anda juga mengaku sebagai agent of change, yang saya sendiri pun tidak tahu apanya yang di change? Sebaiknya diganti menjadi change of (this) agent saja lebih mendekati kenyataan. Saat pejabat disinyalir melakukan tindakan korupsi, siapa yang teriak-teriak di jalan sambil bawa poster berisikan tulisan “tikus rakyat” atau “maling Negara”? anda bukan? Padahal kondisinya masih disinyalir (diduga, diprediksi, dicurigai), mana intelektual saudara? Anda kan bukan anak SMA lagi, masa seorang lulusan SPMB atau PMDK tidak tahu bahwa Negara kita mempraktekkan asas praduga tak bersalah, hormati dong! Anda berorasi dengan handuk diikat di kepala “ kami harap para pejabat harus jujur, benar benar jujur untuk rakyat, jangan mau konggalikong, jangan mau disuap, bla..bla..” padahal kalau anda lagi ujian. H-3 jam anda sudah berada di ruang ujian, bukan untuk persiapan, namun lebih terkesan mendapatkan “posisi wenakkk”…, yang datang hanya satu orang tetapi 5-10 bangku sudah dibooking, hahaha…kayak mesan tiket kereta saja!!! Jujur apanya coy? Saat ujian mengharapkan umpan terobosan, umpan crossing, passing, heading, shooting, teckling, slading, sampai diving pun jadilah asalkan “bola” dari barisan depan datang kepada anda, yang biasanya duduk dibarisan belakang mengalir ke anda. kelaut ajalah! Apa bedanya anda dengan yang anda omongin di pinggir jalan sambil lempar, bakar, dan teriak-teriak kayak kesurupan tadi???

Tulisan yang menarik dari salah satu pengarung samudera di kampus kita tercinta, ITS,Teknik Kelautan yang kita banggakan.Berakar dari cerita sedih di layar kaca,berita derita Negara dari para kader-kader bangsa yang mengatasnamakan perjuangannya demi rakyat Indonesia. Tapi sayang ,mereka yang turun ke jalan adalah kaum yang katanya intelek namun lebih gemar bercanda dengan ototnya sehingga apa yang kita harapkan dari sisi ke-intelektulannya sudah di nomer ke –n kan bahkan bisa saja dipangkatkan menjadi nn. Mereka yang katanya ‘’agent of change’’ tapi sudah saatnya mereka masuk bengkel tuk dipugar menjadi ‘’change this agent’’. Blum terlambat sebelum matahari terbenam dengan munculnya generasi harapan baru. Karena bangsa ini bingung bagaimana memulai perbaikkan jika di semua lini terlihat salah semua,bahkan ketika membayar kewajiban (pajak) tetapi tidak mendapatkan hak ,ketika kejahatan dianggap kebenaran,ketika kebenaran ditindak dengan kejahatan,ketika semua yang palsu terlihat asli dan yang asli dibuang karena kejujurannya menghancurkan kesejahteraan si jahat. Dan ketika kekacauan huru-hara seru kalangan atas untuk berebut kenikmatan dengan memijak kepala rakyat yang untuk merangkak tuk naik kepada taraf hidup yang lebih baik  saja susah,tambah lagi ‘agent of change’ datang dengan gagah dengan otak dibawah. Idealisme mereka yang merusak roda uang masyarakat kecil menambah nikmat derita si kecil yang semakin tersundut kemiskinan. Jika berkenan saya ingin merevisi kata-kata dari tulisan diatas “BERJALAN DIATAS KAKI SENDIRI bahkan BERLARI DIATAS KAKI SENDIRI” dengan “BERJALAN DENGAN KAKI ORANG LAIN sembari BERLARI DIATAS KEPALA ORANG LAIN”,seperti itulah mereka(walau tidak semua),dan silahkan gerakkan otak malas anda untuk mencerna apa maksud dari rangkaian huruf capital itu.

Lantas obat apakah yang mempunyai daya imaginer dashyat untuk membangun Indonesia yang sehat,lincah dan bergairah. Lalu bagaimanakah dengan ‘’agent of change’’ atau lebih hormatnya ‘’change this agent’’?apa yang harus kita lakukan terhadap mereka? Substitusi,eliminasi,atau eksekusi ? salah satu vitaminnya adalah kejujuran. Hal yang simple tapi menjadi complicated jika bertemu dengan kepentingan yang menyangkut kenikmatan dunia. Bagaimana teman-teman mahasiswa memprotes kalangan tua yang terbuai korupsi,tetapi di bangku kuliah masih tidak dapat mempertanggunggjawabkan nilai A dari hasil ujian berjamaahnya ? bagaimana bisa mereka yang berteriak anti korupsi tapi di habitat kampus malah membudidayakan budaya korupsi yaitu mencontek yang merupakan kontra kejujuran ?oleh karena itu kita termasuk saya (tidak munafik) harus melakukan hal yang simple dan sepele ini untuk diaplikasikan kepada peristiwa yang complicated dan penting. Karena 1000 langkah dimulai dari 1 langkah kecil atau gerakan 1 juta facebooker berawal dari 1 user yang join. Mari kita sadar akan keterpurukkan kita,melakukan perubahan,dan konsisten pada jalur kebenaran. Niscaya pergerakkan ini akan bergerak linier terhadap kehidupan dalam masyarakat walau tidak secepat ninja merah di parkiran Kelautan tapi pelan dan pasti jalan kebenaran jika kita tekuni bersama akan menuntun kita pada keberhasilan bersama.Amin.

Regards,

Felix Singgih and Andareas Siagian  penikmat subsidi pemerintah ,duduk di kursi panas ITS yang blum bisa membawa detik menuju perubahan Negara,nusa dan bangsa kepada cercah sinar harapan yang lebih baik. Tapi dengan rangkaian kata,  bersenjatakan keyboard,kami memeras otak kami,berjuang dengan hati,menulis ini demi bangsa kami tercinta,demi perubahan,demi membangkitkan semangat pemberontakkan yang berotak dan berakhlak.

Iklan

2 thoughts on ““agent of change” or “change this agent”

  1. setelah membaca tulisan ini, saya jadi teringat masa Taman bermain (TK) hingga SMA yang selalu membanggakan diri sendiri. kita ambil contoh dalam mengerjakan ujian, dulu saya anti dengan yang namanya contek-mencontek, saya selalu mencibir bahkan mungkin ada prinsip saya tidak boleh menyontek karena saya yakin saya bisa. itulah saya saat masih duduk di bangku SD, SMP, SMA.

    keadaan menjadi berbeda saat saya masuk bangku kuliah. padahal dengan status institut kita yang termasuk institut terbaik, tidak seharusnya kita melakukan hal-hal kotor diatas. namun saat saya melihat kenyataan di kampus, dengan memanfaatkan prinsip “kebersamaan” yang ditanamkan pada kita, keadaan menjadi sangat berbeda. kita tidak dapat bekerja sendiri, harus saling bantu antar teman, agar teman kita tidak tertinggal. sehingga lambat laun saya juga terbawa oleh sebuah keadaan yang “wenaak” tersebut.

    dari pengalaman itu, memang sepenuhnya kita tidak dapat menyalahkan siapa karena siapa, atau apa karena apa, karena sedikit banyak kita sendiri lah yang telah membentuk sikap seperti itu. mungkin solusi dari permasalahan itu adalah kita dapat menempatkan diri, dengan waktu, kondisi serta situasi yang tepat, dalam mengambil tindakan.
    boleh kita dicap sebagai mahasiswa yang “tolong-menolong” dalam hal perkuliahan, meskipun kita tahu itu salah, tapi kita juga harus tahu sejauh mana batasan-batasannya, sejauh mana batasan saat kita tidak lagi dalam lingkungan kampus.
    Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s