POKOK-POKOK PIKIRAN IKA ITS TENTANG MASALAH ENERGI DAN KELAUTAN

Tanggal 11 Februari 2008 bertempat di Kantor Wakil Presiden RI, IKA ITS beraudiensi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pada kesempatan tersebut IKA ITS menyampaikan pokok-pokok pikiran sebagai masukan bagi Pemerintah RI. Berikut pokok pokok pikiran IKA ITS :
Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) pada dasarnya adalah sebuah organisasi kemasyarakatan. Didalamnya berhimpun para alumni ITS dari berbagai latar belakang bidang keilmuan, profesi dan pekerjaan. Salah satu tujuan keberadaan IKA ITS adalah dalam upaya menghimpun, mengorganisasikan dan mengaktualisasikan segenap potensi dan sumberdaya para alumni ITS untuk kepentingan bangsa dan negara. IKA ITS serta organisasi kemasyarakatan ataupun organisasi profesi lainnya merupakan mitra bagi pemerintah dalam upaya mencapai tujuan nasional. Oleh karenanya menjadi sebuah ‘panggilan’ dan tanggungjawab bagi IKA ITS untuk berperan aktif dan memberikan respon kritis-konstruktif terhadap dinamika perkembangan kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

Pada kesempatan ini, IKA ITS ingin memberikan pandangan kritis dan saran konstruktif terhadap 2 (dua) hal penting dalam pembangunan ekonomi nasional Indonesia, yakni masalah energi dan kelautan. Tidak dapat dipungkiri bahwa energi merupakan penggerak penting roda perekonomian. Meningkatnya aktivitas perekonomian berakibat pada meningkatnya konsumsi energi. Sehingga ketersediaan energi nasional menjadi semacam jaminan bagi kelangsungan
aktivitas perekonomian. Sementara itu, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan potensi kekayaan laut yang demkian besar. Namun, potensi kekayaan laut tersebut belum dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Hal ini ironis, pembangunan ekonomi semestinya berprinsip pada resources based-economy. Oleh karenanya IKA ITS memandang masalah energi dan kelautan penting untuk menjadi perhatian dalam pembangunan ekonomi nasional. Berikut ini adalah pokok-pokok pikiran terhadap dua hal tersebut :

TINJAUAN TENTANG MASALAH ENERGI

• Dapat dipastikan bahwa kebutuhan akan minyak dimasa mendatang akan semakin tinggi.
Proyeksi peningkatan kebutuhan ( demand growth) sebesar 1,6 % per tahun. Diperkirakan
kebutuhan minyak akan menjadi 98 juta barrel/hari (2015) dan 188 juta barrel/hari (2030).
Supply minyak yang dipengaruhi masalah geopolitik, konflik, ekonomi, dan teknologi (
“aboveground” factors ) menyebabkan tidak maksimalnya eksploitasi minyak yang akhirnya
berpengaruh terhadap harga minyak. Oleh karenanya “Kebijakan Energi Nasional” pada tahun
2006 yang telah mentargetkan proporsi pengurangan penggunaan energi minyak dari 52 %
menjadi hanya 20% pada tahun 2025, sungguh sangatlah tepat.

• Kebijakan Energi tersebut juga telah mencanangkan proporsi penggunaan gas menjadi 30%,
batubara 33% dan renewable energy menjadi 17% ditahun 2025. Renewable Energy terdiri dari
5% biofuel, 5% geothermal, 5% biomass-nuklir-hydrosolar-windpower dan 2% coal liquefaction.
Oleh karenanya fokus pemerintah kedepan hendaknya meningkatkan penggunaan renewable
energy, suatu upaya diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan kepada minyak.

•Untuk itu perlu dilakukan penyusunan rencana teknis dan target pengurangan yang lebih terinci pertahunnya untuk pengalihan penggunaan energi minyak ke renewable energy. Sebagai gambaran, setiap kenaikan harga minyak US$ 1/barrel, subsidi BBM bertambah Rp 3,15 Trilyun dan subsidi Listrik bertambah Rp 620 milyar, sehingga akan diperlukan sekitar 200 Trilyun rupiah pertahun untuk subsidi BBM dan Listrik pada harga minyak USD 90/barrel. Dalam APBN 2008 ( Perubahan) saat ini jumlah subsidi BBM dan Listrik telah dinaikkan menjadi 151 Trilyun Rupiah (pada harga minyak USD 80/barrel; subsidi BBM 106,8 Trilyun dan listrik 44,2 Trilyun ),walaupun pada rapat koordinasi kabinet tanggal 5 Februari yang lalu diputuskan untuk penghematan subsidi sebesar 25 Trilyun. Dapat ditambahkan bahwa pada harga minyak USD 80/barrel, PLN memperkirakan jumlah subsidi dapat mencapai 68,5 Trilyun. Jumlah subsidi untuk minyak dan listrik yang sedemikian besarnya hendaknya mulai dialihkan untuk pengembangan renewable energy serta pembangunan infrastruktur yang memadai untuk mengurangi pemborosan karena penggunaan energi minyak yang tidak terkendali.

•Peningkatan pengembangan Geothermal sebagai energi alternatif sangat memungkinkan. Hal ini mengingat besarnya cadangan energi geothermal di Indonesia sekitar 27 Gwe, atau setara dengan 12 billions barrels minyak. Namun saat ini masih ada hambatan pada pengembangan geothermal karena masih dibatasi oleh harga jual listrik yang tidak boleh lebih dari US $ 0,05 per Kwh. Oleh karenanya diperlukan pemberian insentif pada pengembangan renewable
energy ini baik dalam fiskal maupun struktur tariff.
•Pengembangan segera tenaga Nuklir adalah salah satu alternatif diversifikasi energi yang patut dikembangkan,mengingat harga listrik yang dihasilkan cukup kompetitif dengan harga listrik saat ini,serta tersedianya bahan baku uranium yang cukup di bumi Indonesia. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengembangan PLTN adalah standar keselamatan yang tinggi serta pengelolaan limbah nuklir yang dihasilkan dari kegiatannya. Untuk itu diperlukan suatu pengelolaan yang profesional dan disosialisaskan kepada masyarakat secara terbuka
dan transparan.
•Mengintensifkan penggunaan batubara, termasuk derivative product batubara seperti CBM (Coal Bed Methane) dimana Indonesia memiliki cadangan CBM yang sangat besar, diperkirakan sebesar 450 TCF, yang kedua terbesar setelah China. Investasi pada proyek CBM ini cukup tinggi, sehingga diperlukan insentif khusus untuk menarik investor.
•Secara umum pada sektor Migas, tantangan yang harus dihadapi adalah peningkatan produksi dan berusaha menahan laju penurunan produksi yang saat ini sekitar 6 – 8,5 % per tahun dengan menggiatkan kembali eksplorasi, penyederhanaan birokrasi, mempercepat pengembangan lapangan baru, penggunaan teknologi yang lebih intensif, koordinasi lintas departmen yang lebih baik. Pencapaian produksi minyak tahun 2007 sebesar 910,000 barrel/per hari lebih rendah dari yang ditargetkan sebelumnya 950,000 barrel/per hari , hanya bisa diatasi dengan peningkatan kegiatan eksplorasi dan percepatan pengembangan lapangan baru. Dari data statistik yang ada, sejak 10 tahun terakhir jumlah oil proven reserve replacement ( penggantian cadangan minyak terbukti ) adalah 86 %, jumlah yang diproduksi
lebih besar dari penemuan cadangan yang baru, akibatnya laju penurunan produksi tidaklah dapat dihindarkan.

•Peningkatan penggunaan gas dalam mengurangi ketergantungan minyak, mempercepat pengembangan lapangan2 yang baru termasuk stranded gas field. Sebagai illustrasi dengan menggunakan gas 500 MMscfd untuk menjalankan PLTG berkapasitas 3,000 MW, maka akan mengurangi konsumsi BBM 4,8 juta kilo liter atau penghematan sebesar Rp 21 trilyun per tahun (pada harga minyak US$ 85/barel dan harga gas US$ 6,5/mmbtu).

•Pengalihan Blok Natuna D Alpha. Kami mendukung keputusan Pemerintah untuk pengakhiran negosiasi antara Pemerintah dan Exxon Mobil untuk pengembangan Blok Natuna D Alpha, dan selanjutnya menyerahkannya kepada Pertamina untuk merealisasikan pengembangannya. Kami harapkan Pertamina dapat menjadi ”Leader” dalam pengembangan blok besar ini, segera mencari business Partners yang tepat, dan menggunakan momentum kelangkaan energi dan usaha dari para Major Oil & Gas Companies untuk penambahan reserve ( cadangan ) saat ini sebagai leverage untuk menghasilkan suatu skema komersial yang menguntungkan bagi negara.

TINJAUAN MASALAH KELAUTAN & INDUSTRI MARITIM

•Untuk mempercepat upaya pemulihan kembali perekonomian nasional, Indonesia memerlukan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sumber tersebut yang bersifat comparative advantage sekaligus competitive advantage untuk menggerakkan perekonomian nasional.

•Saat ini sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia diperkirakan bernilai sekitar US$ 136,5 milyar, meliputi perikanan sebesar US$ 31,9 milyar, wilayah pesisir lestari sebesar US$ 56 milyar, bioteknologi laut sebesar US$ 40 milyar, wisata bahari sebesar US$ 2 milyar dan minyak bumi sebesar US$ 6.6 milyar. Keberadaan sumber daya kelautan dan perikanan yang demikian besar merupakan peluang bagi sumber pertumbuhan ekonomi nasional dan wahana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

•Laut Indonesia memiliki luas lebih kurang 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan potensi sumberdaya, terutama sumberdaya perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas maupun diversitas. Potensi lestari sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,4 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia), yang terbagi dalam sembilan wilayah
perairan utama Indonesia.

•Dari seluruh potensi sumberdaya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,12 juta ton per tahun atau sekitar 80 persen dari potensi lestari, dimana 91,8% -nya telah dimanfaatkan.

•Di samping itu terdapat potensi pengembangan untuk (a) perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta ha dengan potensi produksi 0,9 juta ton/tahun, (b) budidaya laut terdiri dari budidaya ikan dan moluska, dan budidaya rumput laut, (c) budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya mencapai sekitar 913.000 ha, (d) bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan seperti industri bahan baku untuk makanan,
industri bahan pakan alami, benih ikan dan udang, industri bahan pangan.

•Sementara itu sumber daya pesisir dan lautan yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam baik jenis maupun potensinya. Potensi sumber daya tersebut ada yang dapat diperbaharui (renewable resources) seperti sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya),mangrove, terumbu karang, padang lamun, energi gelombang, pasang surut, angin dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion); dan energi yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable
resources) seperti sumber daya minyak dan gas bumi dan berbagai jenis mineral. Selain dua jenis sumber daya tersebut, juga terdapat berbagai macam jasa lingkungan kelautan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan kelautan seperti pariwisata bahari, industri maritim, jasa angkutan, dan sebagainya.

•Pembangunan sektor kelautan dan perikanan menjadi semakin penting, jika membandingkan kesuksesan beberapa negara dalam pembangunan sektor tersebut, seperti Islandia, Norwegia, Thailand, dan Korea Selatan. Berdasarkan pengalaman pembangunan kelautan dan perikanan di beberapa negara tersebut, bangsa Indonesia sepatutnya optimis bahwa sektor kelautan dan perikanan dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.

•Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia yang secara agregat cenderung meningkat ternyata telah membawa implikasi kepada peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan Asia Pasifik. World Economic Forum (WEF) pada tahun 2001 telah memprediksi bahwa kawasan ini akan menjadi leader bagi kawasan lain dalam kurun waktu hingga dua dekade mendatang dimana salah satu penggerak utama pertumbuhan kawasan ini adalah pembangunan di sektor
kelautan.

•Namun demikian, permasalahan dan kendala yang dihadapi juga cukup besar dan tidak mudah untuk diatasi. Permasalahan utama yang dihadapi antara lain: pencemaran laut dan pembuangan limbah secara ilegal oleh negara lain, pencurian ikan, gejala penangkapan berlebih (over fishing), degradasi habitat pesisir (mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria, dll), konflik penggunaan ruang dan sumberdaya, belum tersedianya teknologi kelautan dan perikanan secara memadai, terbatasnya sumber permodalan yang dapat digunakan untuk investasi, dan kemiskinan yang masih melilit sebagian besar penduduk di wilayah pesisir, khususnya pembudidaya ikan dan nelayan skala kecil.

Disamping itu beberapa isu dan agenda pembangunan yang berbasis kelautan harus segera dituntaskan yakni :

•Pengembangan Industri Maritim
Industri maritim merupakan salah satu industri strategis yang dipilih sebagai statu bagian dari berbagai ujung tombak industri berbasis teknologi dan strategi globalisasi demi melancarkan pembangunan dalam negeri dan kemajuan peranan Indonesia dalam persaingan internasional. Industri maritim Indonesia sangat berpotensi dalam menjawab tantangan-tantangan masa depan dan memberi nilai tambah yang cukup tinggi untuk produk–produk transportasi laut yang dapat menghasilkan tambahan devisa ekspor. Secara umum, industri maritim nasional relatif tertinggal jauh dari berbagai negara, padahal industri maritim yang termasuk di dalamnya industri galangan kapal dan jasa perbaikan (docking), industri mesin kapal dan perlengkapannya, industri pengolahan minyak dan gas bumi sangat menentukan kemampuan nasional dalam memanfaatkan potensi laut. Kemampuan bangsa Indonesia dalam industri maritim sangat terbatas karena tingginya nilai investasi yang harus ditanamkan di dalamnya, serta masih terbatasnya kemampuan teknologi dan kualitas sumberdaya manusia yang handal sehingga produk industri maritim kita secara umum tidak bisa menyaingi produk impor, untuk itu diperlukan strategi, yang komprehensif dalam mengembangkan industri maritim, dalam hal ini harus didukung dengan kebijakan yang berpihak pada kemampuan sendiri.

•Penguatan Armada Angkutan Laut
Wawasan pembangunan nasional adalah wawasan nusantara sebagai satu kesatuan wilayah, politik dan ekonomi sehingga untuk membangun nusantara wilayahnya yang 75% wilayahnya adalah laut diperlukan angkutan laut yang kuat untuk melancarkan arus masuk, barang dan jasa. Selain itu ekspor dan impor produk memerlukan jasa transportasi yang prima. Saat ini sekitar 96% angkutan ekspor impor dan 55% angkutan domestik masih dilayani oleh kapal-kapal berbendera asing, Namun demikian, ternyata pemintaan yang besar tersebut tidak dapat dilayani oleh armada nasional dikarenakan berbagai kelemahan di antaranya terbatasnya armada kapal yang handal, lemahnya dukungan lembaga keuangan, kemampuan manajemen dalam persaingan internasional, sehingga armada angkutan laut seperti menjadi tamu di negeri sendiri karena aktivitas transportasi lebih banyak ditangani perusahaan asing. Pemerintah dan dunia swasta harus segera mengantisipasi globalisasi perdagangan dengan membangun armada laut nasional, apabila bangsa Indonesia ingin mengembangkan perekonomian dan membangun jati-dirinya sebagai negara bahari terbesar di dunia. OIeh karena itu, hendaknya sekurang-kurangnya kita dapat menjadi tuan rumah dinegeri sendiri, melalui penerapan kebijakan yang berpihak pada armada nasional serta pembangunan kembali armada niaga
modern dan tradisional.

•Infrastruktur Pelabuhan Umum Dan Perikanan
Pelabuhan adalah pusat aktivitas perekonomian kelautan, sehingga keberadaannya sangat diperlukan dalam pembangunan kelautan. Pada saat ini dirasakan pengembangan pelabuhan umum dan perikanan belum berfungsi secara optimal. Hal tersebut dikarenakan oleh berbagai faktor seperti terbatasnya fasilitas, rendahnya teknologi, kualitas pelayanan yang rendah serta biaya yang mahal maupun kesalahan dalam perencanaan. Dalam rangka peningkatan arus barang dan jasa pada era pasar bebas maka pengelolaan pelabuhan harus mampu meningkatkan kinerjanya dan menekan biaya tinggi agar efesiensi nasional maupun bisnis dapat tercapai. Dalam pengelolaan perizinan perlu dicari sistem prosedur yang paling efisien dan efektif agar pergerakan kapal dan arus barang dapat diperbaiki, perizinan kapal umum dan kapal ikan harus dipisah karena karakteristiknya berbeda sehingga tidak terjadi inefisiensi karena birokrasi yang panjang. Sudah saatnya pemerintah lebih sebagai fasilitator dan membuat kebijakan sehingga bisnis bisa bergerak sesuai dengan kekuatan yang berperilaku wajar.

•Bangunan Kelautan
Pembangunan kontruksi di pesisir dan laut memerlukan kemampuan rekayasa yang sesuai dengan kondisi alam (Design with the Nature) pesisir dan laut yang memiliki kondisi ekosistem dan fisik berbeda dengan daratan. Dengan demikian faktor bangunan kelautan (kegiatan penyiapan lahan sampai kontruksi di pesisir dan bangunan lepas pantai) harus dikaji dengan seksama agar tidak menimbulkan bencana yang berdampak pada manusia dan lingkungan serta sumberdaya alam (kasus reklamasi Teluk Jakarta dan Manado).

Demikian pokok-pokok pikiran IKA ITS berkaitan dengan masalah energi dan kelautan. Dua hal penting yang harus menjadi perhatian agar kelangsungan dan keberhasilan pembangunan ekonomi nasional dapat terwujud.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s