Sebuah Pemikiran “Hari Pahlawan”

“Telah gugur pahlawanku. Tunai sudah janji bakti. Gugur satu tumbuh seribu…”

Bait lagu yang saya petik adalah lagu kenangan saya waktu SD. Di masa itu saya menyanyikan lagu tersebut bersama teman-teman untuk upacara di sekolah. Dan lagu itu begitu menyentuh saya begitu dalam seperti lagu-lagu religious Opick. Namun sampai saat ini saya belum tahu makna khusus pencanangan tanggal 10 November sebagai pahlawan.

Sebenarnya apa sih semangat para pahlawan, baik yang telah gugur maupun yang masih hidup, dalam memperjuangankan kemerdekaan bangsa ini??? Tidak mungkin hanya karena ingin mendapatkan harta atau tahta karena mereka bertaruh nyawa. Niat mereka lebih suci dari itu. Lebih tinggi dari sekedar ingin mendapatkan gelar nama pahlawan. Kalau menurut saya salah satu semangat mereka yaitu ingin menghargai kita yang masih hidup agar hidup lebih mulia serta bebas dari segala penjajahan. Intinya yaitu memuliakan atau menghargai orang yang masih hidup.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini, bangsa ini telah lupa dengan semangat pahlawan-pahlawan kita yaitu menghargai manusia yang masih hidup. Kita merasa telah cukup dengan melaksanakan renungan malam 10 Nopember di Taman Makam Pahlawan Bung Tomo atau juga di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kita merasa cukup dengan menabur bunga pada makam mereka dan mengheningkan sejenak.

Kita lupa bahwa tanggung jawab kita sekarang kepada para pahlawan kita tidak hanya sekedar mengenang mereka tapi juga meneruskan perjuangan mereka, meneruskan semangat mereka, dan tentunya mengisi kemerdekaan bangsa kita. Satu yang kita lupa kita tidak menghargai jutaan jiwa rakyat Indonesia yang masih hidup. Kita lupa memperjuangkan mereka. Bukankah para pahlawan kita berani gugur demi memperjuangan jiwa rakyat ini agar merdeka

Lalu apa guna kita memperingati Hari Pahlawan kalau hanya sebatas formalitas saja ????

Kita semua lupa mempunyai tanggung jawab atas ribuan jiwa rakyat Indonesia! Kita lupa banyak sekali rakyat yang tinggal dalam garis kemiskinan yang seakan terlupakan oleh kita. Kita lupa bahwa masih banyak rakyat kita yang masih kelaparan, buta huruf, dan hidup tertindas padahal kita sudah merdeka selama 65 tahun. Kita lupa akan tanggung jawab sosial bersama. Mungkin kita tidak lupa tapi masa bodoh akan hal ini. Padahal kita tidak disuruh berperang dan mempertaruhkan nyawa kita.

Apakah “kita” yang di sebut orang-orang sebagai kaum intelektual tapi masih banyak pekerjaan rumah yang belum kita kerjakan sebagai kaum intelektual. Banyak hal dari mulai perkembangan iptek, masalah sosial dan sebagainya yang perlu kita kerjakan dan membantu saudara-saudara kita yang kekurangan dan belum mendapatkan kekayaan ilmu seperti apa yang kita dapatkan sekarang.

Warisan itu ada. Semangat itu masih terpatri di jiwa-jiwa pahlawan kita mesti telah gugur. Hanya semua kembali pada diri kita.

Apakah kita mau mewarisinya???

Apakah kita mau melanjutkan perjuangan para pahlawan kita???

Pilihan bagi kita sekarang bukan lagi merdeka atau mati.

Tapi berjuang atau hidup terhina.

Oh Sudirman! Oh Bung Tomo! Malu kami mengenangmu tanpa meneruskan perjuanganmu.

 

Wawan Setyawan

Teknik Kelautan FTK ITS 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s