Kapal Buaya Pertama di Dunia

Kecanggihan teknologi militer tak pernah henti membutuhkan inovasi. Mulai dari kapal induk, kapal selam, hingga pesawat siluman yang tidak dapat terdeteksi oleh radar. Terinspirasi oleh pergerakan unik dari hewan reptil jaman purba, dosen ITS pun merancang kapal buaya yang kelak dapat digunakan untuk kapal pertahanan dan keamanan nasional.

Jurusan Teknik Kelautan ITS, ITS Online – Ditemui di ruangannya, Dr Ir Wisnu Wardhana SE Msc terlihat santai dengan kaos cokelat berkerahnya. Dosen Jurusan Teknik Kelautan tersebut dengan sabar menjelaskan tentang Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil (KPC-H). Tak heran, sebab kapal ini merupakan kapal non permukaan pertama yang dirancang olehnya. “Sebelumnya sudah sering merancang kapal normal permukaan,” tuturnya.

Nantinya, dijelaskan Wisnu, kapal ini mampu melakukan penyamaran, mencegat, menyusup, melepas pasukan komando dengan hening, merekam atau mengirim data kondisi awan. Tak hanya itu, menebar ranjau, menyerang atau menghindar cepat juga bisa dilakoni sang kapal.

“kapal ini mempunyai karakteristik gerak yang baik untuk meningkatkan akurasi tembakan,” ujarnya. Lebih detail Wisnu memaparkan, untuk keperluan pertahanan dan keamanan (hankam), memang diperlukan wahana perang yang mampu bergerak dengan kecepatan tinggi dan sukar dideteksi.

Ia pun menyebutkan, penyerangan Pearl Harbour yang dilakukan secara mendadak oleh Jepang pada tahun 1941 silam, adalah salah satu pentingnya contoh sifat kecepatan yang harus dimiliki suatu alat perang. Sedangkan untuk alat yang tidak dapat bergerak secara cepat, sifat sukar dideteksi diharapkan mampu menutupi kekurangannya.

Dari dua sifat itulah, pria berkacamata ini terinspirasi untuk menggabung dua keunggulan tadi, cepat dan sukar dideteksi, menjadi satu kesatuan dalam sebuah produk. Alhasil, muncullah gagasan KPC-H ini. Dengan dua keunggulan tersebut, bertahan atau menyerang dengan cepat serta tidak terdeteksi musuh, bukan sekedar angan-angan lagi. “Bisa membuat musuh terkejut,” ungkapnya dengan semangat.

Seperti namanya yang memiliki unsur buaya, Wisnu berharap, kapal ini bisa berperilaku layaknya buaya. Yakni, KPC-H mampu menjadi kapal normal permukaan seperti pada umumnya kapal, kapal submarine (kapal selam), dan kapal Hydrofoil (di atas permukaan). ”Tergantung pada kondisi seperti apa yang terjadi, maka perilaku kapal bisa disesuaikan,” jelas pria yang berasal dari Surabaya ini.

Jika tentara Turki Ottoman dulu mampu membuat lawannya terkejut karena kapal laut yang berpindah ke daratan karena diseret oleh para prajuritnya, maka KPC-H bisa berubah dirinya dari kapal selam menjadi kapal normal permukaan, bahkan kapal di atas permukaan.

Secara khusus, mode submarine ini digunakan saat melakukan penyamaran agar tidak dapat terdeteksi. Sebagaimana yang dilansir dari salah satu media, Wisnu mengatakan bahwa radar tidak bisa menembus air. Lain halnya dengan mode hydrofoil. Mode ini digunakan saat melakukan pengejaran musuh yang memerlukan kecepatan.

Profil Kapal

Secara fisik, kapal ini memilki dimesi panjang 12 meter, lebar 2,8 meter, dan tinggi dua meter dengan berat kapal sebesar 14,35 ton. Kapal ini mampu melaju dengan kecepatan 20 knot (36 kilometer per jam) saat menyelam, dan 40 knot (72 kilometer per jam) karena resistivitynya lebih kecil. Agar kapal dapat melayang, maka berat jenisnya disesuaikan dengan berat jenis air.

Enam orang awakjuga mampu menempati kapal ini secara bersamaan. Karena dua mesin yang digunakan menggunakan mesin diesel, maka diperlukan udara untuk proses pembakaran. Oleh karenanya, diperlukan cerobong udara yang digunakan saat menyelam. Akibatnya, kapal ini tidak bisa menyelam terlalu dalam, sepuluh meter maksimal.

Penelitian yang bekerja sama dengan TNI Angatan Laut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta dengan perusahaan dan universitas lain ini membutuhkan waktu sekitar 3 tahun, diharapkan tahun 2013 prototype kapal ini selesai. Saat ini, sudah sampai proses mencetak badan kapal.

Kenapa Harus Buaya?

Wisnu menceritakan, beberapa kasus lepasnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti Sipadan, Ligitan, pencurian hasil laut, dan sebagainya membuat Indonesia mengalami kerugian trilyunan rupiah. ”Salah satu sebabnya, kita kurang mengawasi dan menjaga dengan baik. Kapal kita kurang canggih dari mereka,” terangnya.

Untuk itulah butuh kapal dengan tingkat teknologi lebih tinggi. ”Buaya, mampu memangsa dengan cepat. Kelihatannya diam, tapi tiba-tiba langsung menyambar. Kita butuh yang seperti itu” imbuhnya. Baginya, kelebihan yang menyebabkan musuh tidak mendeteksi keberadaan kita merupakan salah satu poin penting.

Menurutnya, buaya meruapakan hewan yang unik. Perilakunya sangat luar biasa sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Walaupun secara fisik jelek, buaya mempunyai banyak kelebihan. Kuat, tangguh, dan meruapkan rantai makanan tertinggi. Wisnu sangat terinspirasi. “Asal jangan buaya darat saja,” celotehnya sembari tertawa.

Wisnu berharap, ilmuwan Indonesia banyak berkonsentrasi tentang laut. Karena NKRI banyak dituntut di laut.  ” Yang ahli fisika, gunakan fisikanya agar bermanfaat di laut. Begitu juga matematika, teknik, dan yang lain,” pungkas perancang kapal jenis ini sebagai kapal tiga mode pertama di dunia. (nir/esy) (Sumber: its.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s