Himpunanku, Himpunanmu, Himpunan Kita Bersama

Note ini berhubungan dengan video yang saya upload ini.

– Seorang ayah akan melakukan apapun untuk putrinya, untuk anaknya. Dengan semua keterbatasan yang dia miliki, dia tidak ingin semua itu menghalangi rasa sayang dan cinta kasihnya untuk sang anak-

Himpunanku, himpunanmu, himpunan kita bersama. Terkadang kita lupa tentang itu. Terkadang karena sudah terlalu sangat “terbiasa” menyebut “himpunanku” maka kita menjadikannya sesuatu hal yang sangat biasa saja. Walaupun dia sedang naik – naiknya, entah ia sedang terpuruk, semuanya hanya sebatas angin lalu saja.

Seperti kalimat pembuka diatas. Seperti seorang ayah. Himpunan kita bersama ini akan memberikan apapun untuk kita. Di tengah semua keterbatasan yang dimiliki. Kita tumbuh, kita mulai belajar arti keluarga, arti bersama. Arti memiliki, arti memberi, arti berbagi. Apakah masih ada seperti itu?

Tolong, jangan sampai apapun terjadi pada putri saya. Saya punya rumah. Saya punya uang. Ambil semua. Putri saya. Tidak boleh mati!

Apakah kalimat seperti itu akan keluar dari mulut kita, dari diri kita ketika kita melihat himpunan yang kita cintai dalam kondisi terburuk?? Apakah kita akan dengan ikhlas memberi dan berbagi di tengah kondisi himpunan tidak seideal yang kita harapkan??
Di tengah semua hal. Di tengah semua kesibukan akademis. Di tengah semua kepentingan. Di tengah semua kondisi. Mampukah kita untuk berbuat lebih? Bisakah kita untuk saling bersama – sama, menggenggam erat tangan kita, bahu membahu untuk memberi dan berbuat lebih untuk himpunan yang kita cintai ini?

Adik – adikku,
Banyak hal yang telah dan akan kita dapatkan dari himpunan. Tapi apa yang sudah kita beri?? John F. Kennedy pernah menyatakan, “jangan tanyakan apa yang negaramu beri untukmu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu beri untuk negaramu”. Apabila himpunan kita analogikan sebagai negara maka yang harus kita tanyakan pada diri kita adalah “apa yang sudah kita berikan untuk himpunan kita?? Sudahkah?”

Aku terlahir bisu tuli. Ayah minta maaf untuk itu. Ayah tidak bisa berbicara seperti ayah – ayah yang lain. Tetapi ayah ingin kamu tahu jika ayah mencintaimu dengan sepenuh hati.

Himpunan dengan berbagai kondisinya. Mungkin himpunan kita tidak sebesar himpunan lain. Mungkin himpunan kita tercinta tidak seterkenal himpunan yang lain. Tetapi himpunan kita yang telah membuat kita seperti sekarang ini. Himpunan kitalah yang mengajarkan kita banyak hal. Apakah kita akan melupakannya begitu saja?

Adik-adikku,
Kondisi himpunan ala kadarnya jangan jadi penghalang untuk berbuat lebih. Down to earth. Lebih mengayomi dan jadilah penjembatan untuk semua pihak. Himpunan ini bukan hanya milikmu, bukan hanya milikku tapi milik kita bersama

Tidak ada himpunan yang sempurna. Yang ada hanyalah bagaimana kita menjadikannya sempurna di mata kita, sempurna bagi kita.


Wawan Setyawan
4308 100 006
Ocean Engineering Department
Faculty of Marine Engineering
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Iklan

One thought on “Himpunanku, Himpunanmu, Himpunan Kita Bersama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s